AYAHQQ- Sejumlah personel di sebuah pangkalan militer utama Amerika Serikat (AS) di Qatar disarankan untuk melakukan evakuasi paling lambat Rabu (14/1/2026) malam. Demikian menurut seorang pejabat AS dan pemerintah Qatar seperti dikutip dari laporan Associated Press.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, setelah Presiden Donald Trump memperingatkan kemungkinan tindakan militer menyusul tindakan keras mematikan terhadap demonstran di Iran.
Keputusan tersebut muncul ketika seorang pejabat senior di Teheran kembali menyinggung serangan balasan Iran pada bulan Juni lalu terhadap Pangkalan Udara Al Udeid di luar Doha, Qatar.
Seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim karena membahas rencana sensitif menjelaskan bahwa langkah di pangkalan tersebut bersifat pencegahan. Ia juga mengatakan langkah-langkah serupa sedang dilakukan di berbagai lokasi lain di kawasan. Namun, demi alasan keamanan operasional, pejabat itu menolak memberikan rincian lebih lanjut, termasuk apakah evakuasi bersifat sukarela atau wajib, apakah mencakup personel militer atau sipil, serta berapa jumlah orang yang disarankan untuk meninggalkan lokasi.
Aksi demonstrasi anti-pemerintah di Iran dimulai pada akhir Desember. Presiden Trump sebelumnya menyatakan kesediaannya untuk melakukan operasi militer terhadap Iran apabila Teheran terus melakukan pembunuhan dan penangkapan terhadap para demonstran.
Pada Selasa (13/1), Trump mengatakan bahwa ia meyakini pembunuhan tersebut berskala "signifikan" dan pemerintahannya akan "bertindak sesuai dengan itu". Ia menegaskan pula peluang perundingan dengan pejabat Iran telah dihentikan, serta menyampaikan pesan kepada warga Iran bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan" tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Qatar Menyebut Adanya Ketegangan Regional
Pemerintah Qatar menyatakan bahwa langkah-langkah di Pangkalan Al Udeid dilakukan sebagai respons terhadap situasi keamanan kawasan.
"Negara Qatar terus melaksanakan semua langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan warga negara dan penduduknya sebagai prioritas utama, termasuk langkah-langkah terkait perlindungan infrastruktur penting dan fasilitas militer," demikian pernyataan Kantor Media Internasional Qatar melalui platform media sosial X.
Pangkalan Al Udeid, yang menampung ribuan anggota militer AS, menjadi sasaran serangan Iran pada Juni tahun lalu sebagai balasan atas serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, menulis di platform X, "Presiden AS, yang berulang kali berbicara tentang agresi sia-sia terhadap fasilitas nuklir Iran, seharusnya juga menyebutkan kehancuran pangkalan AS di Al Udeid akibat rudal Iran."
"Hal itu tentu akan membantu menciptakan pemahaman nyata tentang kehendak dan kemampuan Iran untuk merespons setiap agresi," tambahnya.
Penyesuaian Kehadiran Militer AS di Kawasan
Militer AS mempertahankan berbagai pasukan di kawasan Timur Tengah, termasuk di Pangkalan Al Udeid. Namun, pemerintahan Trump telah memindahkan sebagian sumber daya militer dari Timur Tengah ke Laut Karibia sebagai bagian dari kampanye tekanan terhadap mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, pada Oktober lalu diperintahkan berlayar dari Laut Mediterania menuju Laut Karibia bersama beberapa kapal perusak. Kapal induk USS Nimitz, yang turut terlibat dalam serangan terhadap program nuklir Iran pada Juni, juga meninggalkan kawasan tersebut pada Oktober.
Hingga Selasa, Angkatan Laut AS masih memiliki lima kapal kecil di perairan dekat Iran, terdiri dari dua kapal perusak dan tiga kapal tempur pesisir.
Kontak Diplomatik Iran dan Qatar
Pejabat Iran dan Qatar tetap menjalin komunikasi di tengah situasi tersebut. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani melakukan percakapan telepon pada Selasa dengan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani.
Dalam pernyataannya di platform X, Al Thani mengatakan bahwa ia menegaskan kembali dukungan Qatar terhadap semua upaya de-eskalasi serta solusi damai untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan.
Keputusan Iran pada Juni lalu untuk membalas serangan AS dengan menargetkan pangkalan di kawasan gurun tersebut menciptakan ketegangan yang jarang terjadi antara dua negara tetangga maritim itu. Pejabat Qatar menyatakan bahwa serangan tersebut mengejutkan mereka.
Komando Pusat Militer AS menyatakan saat itu tidak ada personel AS maupun Qatar yang terluka, seraya menambahkan kedua negara bekerja sama dalam mempertahankan pangkalan tersebut. Seorang perwira militer Qatar menuturkan bahwa satu dari 19 rudal yang ditembakkan Iran tidak berhasil dicegat dan menghantam pangkalan. Namun, Trump menyatakan melalui unggahan media sosial saat itu hampir tidak ada kerusakan yang terjadi.
Qatar di Tengah Ketegangan Kawasan
Qatar sebelumnya terdampak ketegangan regional lainnya, termasuk serangan Israel pada September terhadap markas kepemimpinan politik Hamas di Doha ketika para tokoh utama kelompok tersebut berkumpul untuk mempertimbangkan proposal gencatan senjata di Jalur Gaza yang diajukan AS.
Pentagon menolak memberikan komentar terkait pertanyaan mengenai perubahan situasi di Pangkalan Al Udeid. Kementerian Luar Negeri AS pun belum memberikan tanggapan terkait kemungkinan dikeluarkannya peringatan keamanan bagi diplomat AS atau warga sipil lainnya di Qatar.
Pada Juni lalu, Kedutaan Besar AS sempat mengeluarkan imbauan singkat agar warga negara AS di Doha berlindung di tempat, namun tidak sampai mengevakuasi diplomat atau menyarankan warga AS untuk meninggalkan negara tersebut.
No comments:
Post a Comment