LIGADUNIA365- Berikut kisah meditasi horror yang mencekam:
🕯️ “Meditasi di Kuil Tua”
Di sebuah desa terpencil di kaki gunung, berdiri sebuah kuil tua yang sudah lama ditinggalkan. Orang-orang desa percaya kuil itu dihuni oleh arwah para pertapa zaman dahulu yang meninggal ketika sedang bertapa. Tidak ada satu pun penduduk yang berani masuk ke sana saat malam tiba.
Namun, seorang pemuda bernama Arta datang ke desa itu untuk mencari ketenangan batin. Ia adalah seorang praktisi meditasi yang berambisi mencapai pencerahan dengan cara ekstrem: bermeditasi sendirian di tempat paling angker. Arta percaya bahwa ketakutan adalah penghalang terakhir menuju kesadaran sejati.
Malam itu, ia masuk ke kuil tua hanya dengan membawa sebuah lentera dan tikar tipis. Udara terasa berat dan dingin. Dinding kuil penuh lumut, dan aroma dupa tua yang basi masih samar tercium. Di tengah kuil, ia duduk bersila dan memejamkan mata.
Awalnya, suara jangkrik dan desiran angin menemani keheningan. Namun, setelah satu jam bermeditasi, suasana berubah. Udara menjadi semakin dingin, dan suara jangkrik menghilang. Arta tetap fokus, mencoba mengatur napas. Lalu terdengar suara langkah kaki perlahan mengelilinginya.
Ia membuka mata sedikit, tapi tak ada siapa pun. Lentera berkedip seolah hampir padam. Dalam separuh kesadarannya, ia mulai merasakan kehadiran makhluk lain. Bayangan hitam bergerak di sudut ruangan, meski tidak ada cahaya yang cukup untuk menciptakan bayangan.
Arta mencoba kembali fokus, mengulang mantra perlindungan. Namun tiba-tiba, suara berbisik terdengar tepat di telinganya:
“Kau ingin pencerahan… atau kematian?”
Tubuhnya gemetar, tapi ia tetap duduk diam. Dalam pandangan batinnya, ia mulai melihat sosok-sosok kurus dengan mata kosong mengelilinginya. Mereka adalah para pertapa lama yang mati di kuil itu, wajah mereka pucat dan membusuk, tetapi mereka semua sedang duduk bersila, menatapnya tanpa berkedip.
Salah satu roh merangkak mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Arta. Bibirnya bergerak perlahan, berbisik:
“Kami semua mencari cahaya… tapi yang kami temukan hanya kegelapan…”
Dalam sekejap, Arta merasa tubuhnya tidak bisa bergerak. Seperti ada tangan-tangan dingin mencengkeramnya dari belakang. Napasnya berat. Namun, di tengah rasa takut yang menjerat, Arta memaksa pikirannya untuk tetap fokus. Ia memusatkan seluruh energinya pada satu titik, mengulang mantra tanpa henti.
Suasana perlahan berubah. Sosok-sosok itu mulai memudar satu per satu, meski wajah mereka tetap menatapnya dengan mata kosong. Lentera kembali menyala terang. Dan ketika Arta membuka mata sepenuhnya, ia sendirian di dalam kuil.
Pagi harinya, penduduk desa menemukan Arta duduk bersila di tengah kuil dengan wajah pucat dan mata merah. Ia masih hidup, tapi tidak pernah berbicara lagi. Sejak malam itu, kuil tua tersebut dikenal dengan nama “Kuil Pertapa Terkutuk”, dan tak ada yang berani memasukinya… kecuali mereka yang ingin menguji nyali dengan mempertaruhkan warasnya.
No comments:
Post a Comment