REDMIQQ- Investor global masih mencermati kondisi terbaru di Amerika Serikat (AS) sebelum pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Desember 2025. Sisi lain, harapan pemangkasan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) meningkat.
Pekan ini, pelaku pasar terus melihat data makroekonomi sporadis dari AS yang masih tertinggal lebih jauh dari biasanya setelah pembukaan kembali pemerintahan AS atau shutdown pemerintah AS baru-baru ini.
Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Minggu (30/11/2025), dalam hal ini, penjualan ritel AS melemah lebih dari yang diperkirakan untuk September.
Namun, laporan klaim pengangguran awal mingguan menunjukkan klaim terendah sejak Februari yang menunjukkan ketahana di pasar tenaga kerja. Rilis data mingguan ini meski masih rentan terhadap gangguan, kumpulan data yang beragam ini terus menjaga volatilitas tetap tinggi.
Selain itu, terdapat sedikit peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat volatilitas tetap tinggi.
“Fokus investor global tetap pada kejelasan lebih lanjut tentang kondisi terbaru di AS, sebelum pertemuan FOMC yang sangat dinantikan pada Desember,” demikian seperti dikutip.
“Selain itu, selama seminggu terakhir, kita melihat pergeseran signifikan dalam ekspektasi penurunan suku bunga yang turun signifikan menjadi sekitar 30% tetapi sejak itu pulih menjadi 80% berdasarkan data terbaru,”
Mencerminkan perubahan ekspektasi yang cepat dan drastis ini, imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun sekitar 15 bps menjadi 4% dalam periode yang sama. Selain itu, ekspektasi yang lebih agresif terhadap penurunan suku bunga membantu selera risiko global yang mendorong aset berisiko seperti saham Asia.
Berlawanan dengan pergerakan imbal hasil obligasi AS minggu lalu, imbal hasil obligasi Indonesia naik sekitar 15 bps menjadi 6,3% karena mata uang tersebut relatif lemah meskipun telah menguat minggu lalu di mana Rupiah pulih kembali ke level 16.600.
"Dengan sikap Bank Indonesia (BI) baru-baru ini untuk mengawasi stabilitas mata uang, pelemahan mata uang tersebut telah menuntut imbal hasil yang lebih tinggi dari investor
Prospek Imbal Hasil Obligasi
Namun, dalam hal inflasi, pasar mengharapkan data yang ringan dalam rilis berikutnya yang tetap berada dalam kisaran target BI. Selain itu, kembalinya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed akan membantu BI dengan lebih banyak ruang untuk penurunan suku bunga, sejalan dengan arahan Gubernur BI.
Lelang SRBI terbaru menunjukkan peningkatan imbal hasil SRBI secara bertahap, yang berakhir di kisaran 4,94% dari titik terendahnya sebulan lalu di 4,66%. Langkah bank ini dapat dilakukan untuk menstabilkan Rupiah, yang masih konsisten dengan alasan mempertahankan suku bunga.
Dalam jangka pendek, imbal hasil obligasi dapat mengalami tekanan kenaikan, tetapi dapat mereda seiring berlanjutnya pemangkasan suku bunga global dan Rupiah mengalami sedikit penguatan.
Prospek Saham
Secara keseluruhan, kenaikan imbal hasil obligasi baru-baru ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian makroekonomi global serta instabilitas Rupiah.
"Namun, kami yakin imbal hasil obligasi masih memiliki ruang untuk penurunan, didukung oleh siklus pelonggaran global yang sedang berlangsung dan sikap Bank Indonesia untuk mendukung pertumbuhan,” demikian seperti dikutip.
"Kondisi saat ini dapat menjadi peluang bagi investor untuk mengakumulasi imbal hasil yang lebih panjang dengan imbal hasil yang saat ini tinggi,”
Di sisi lain, saham Indonesia mencatatkan indeks utama mencapai rekor tertinggi baru minggu ini, tetapi sebagian besar saham unggulan terpuruk.
Dalam jangka menengah, Ashmore masih melihat peluang untuk pemeringkatan ulang dan pertumbuhan dari saham-saham bernilai dan yang secara fundamental tangguh seiring dengan terus terlihatnya tanda-tanda pemulihan.
“Kami yakin masih ada potensi kenaikan yang lebih besar pada saham dalam siklus saat ini dan merekomendasikan diversifikasi di antara saham dan obligasi berkualitas,” demikian seperti dikutip.